Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda, dari 23 Agustus hingga 2 November 1949 antara perwakilan Republik Indonesia, Belanda, dan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), yang
Perjanjian Roem-Roijen
Suasana Konferensi Permulaan Meja Bundar. Tampak: Prof. Dr. Supomo, Ali Sastroamidjojo, Mohammad Roem, Leimena, A.K. Pringgodigdo, Latuharhary, 14 April 1949
---------------
Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian
---------------
Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian
BPUPKI
Persidangan resmi BPUPKI yang kedua pada tanggal 10 Juli-14 Juli 1945
--------
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah badan yang
--------
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah badan yang
Agresi Militer Belanda II
Seorang prajurit Indonesia bersiap siaga di perbatasan Yogyakarta
-----------
Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan
-----------
Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan
TNI MERAH PUTIH, TNI TALIBAN DAN TNI SOEHARTOIS
JAKARTA,
(TNI Watch!, 17/11/99). Kalangan jendral TNI Angkatan Darat,
dulu terpecah dalam dua kubu. TNI Merah-Putih versus TNI Hijau (di kalangan
jendral TNI Merah Putih disebut TNI Taliban). Namun kini, TNI AD terpecah
menjadi tiga, yakni: TNI Reformasi (jelmaan TNI Merah Putih), TNI Hijau
(Taliban) dan Soehartois.Para
jendral Soehartois adalah para jendral yang pernah menjadi ajudan Presiden
Soeharto atau sebagai Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di zaman
Soeharto. Mereka ini: Jendral TNI Wiranto, Letjen TNI Sugiono, Letjen TNI
Tyasno Sudarto, Soegiono dan Tyasno adalah mantan Komandan Paspampres. Lalu ada
Letjen TNI Djadja Suparman (Pangkostrad) dan Mayjen TNI Sjafrie Syamsuddin
(Staf Ahli Pangab Bidang Polkam). Hingga kini Wiranto dan Sjafrie adalah dua
jendral yang bisa dengan gampang bertemu Soeharto. Kalau digunakan diagram ven,
sejumlah jendral Soehartois juga teriris di TNI "Taliban", dan satu
dua jendral yang teriris atau main di dua kelompok
ini.
HUBUNGAN SAYA DENGAN PAK YANI
Sayidiman
Suryohadiprojo
Hubungan
saya dengan Jenderal Anumerta Achmad Yani bermula dengan perkenalan saya dengan
beliau pada tahun 1956. Waktu itu Pak Yani yang baru selesai mengikuti
pendidikan di Command & General Staff College di Fort Leavonworth (AS)
ditetapkan sebagai Assisten 2 Operasi di Staf Umum AD (SUAD) di Jakarta. Jenderal
A.H. Nasution yang waktu itu menjadi Kepapa Staf AD (KASAD) telah menarik Pak
Yani dari komando Tentara & Territorium III (TT 3) Jawa Tengah untuk
dikirimkan ke pendidikan di AS itu. Pak Nas melihat kwalitas Pak Yani yang
tinggi sebagai Perwira yang ketika itu dibuktikan oleh Pak Yani sebagai
Komandan Resimen. Sebagai Dan Men Pak Yani telah berhasil mengatasi masalah
Darul Islam (DI/TII) yang terjadi di Jawa Tengah bagian barat. Pak Yani
membentuk pasukan yang diberi nama Banteng
Kapten Wardiman (KNIL Lulusan BREDA)
Salah
satu buah dari politik etis adalah dibukanya pintu pendidikan militer di KMA
Breda untuk segelintir pribumi Hindia Belanda. Mengapa segelintir? Karena untuk
masuk kesana memang bukan sembarang orang. Tubuh kuat dan otak cerdas tidak
cukup, dalam diri calon perwira KNIL tamatan Breda harus mengalir darah biru,
minimal anak seorang wedana. Sebuah
catatan menyebutkan, pribumi pertama yang menjadi kadet KNIL adalah Sultan
Hamid Alkadrie dari Pontianak. Ia lulus dari KMA Breda tahun 1936. Tapi saya
terus terang meragukan catatan ini, karena buku Siapa Dia? Perwira Tinggi TNI
karya Harsja W Bahctiar jelas menyebut dilantiknya R Sardjono Soeria Santoso
sebagai letnan II KNIL adalah tahun 1921. Tapi
KEMBALINYA GURU PARA JENDERAL KE MEDAN LAGA
OLEH
: DAHLAN ISKAN (WARTAWAN SENIOR INDONESIA)
Bagi
yang penasaran mengapa SBY menunjuk TB.Silalahi menjadi Ketua Dewan Pengawas
Partai Demokrat yang tengah di puncak kesulitannya, bacalah buku ini :
TB.SILALAHI (bercerita tentang pengalaman). Jangankan
mengurai benang kusut yang ruwet, Pak Harto yang begitu sangat “berkuasa”, juga
berhasil TB (begitu dia akrab disapa), “tundukkan”. Dalam
buku yang ditulis dengan gaya bahasa yang teramat menarik, lancar dan mengalir
oleh wartawan senior Atmadji Sumarkidjo itu, berbagai kisah penundukkan TB
dituturkan: menundukkan Jenderal Rudini, Jenderalk Edy Sudradjat dan banyak
jenderal lainnya yang sebenarnya adalah atasannya, TB juga mampu menundukkan
para analis perang, berbagai
Tan Tjien Kie :
=========================================================
Peringetan Wafatnya Majoor Tan Tjin Kie
Peringetan Wafatnya Majoor Tan Tjin Kie
Budaya-Tionghoa.Net
| Tan Tjin Kie lahir pada tanggal 25 Januari 1853 di Cirebon dan meninggal pada
tanggal 13 Februari 1919. Pada tahun 1884 Tan diangkat menjadi Luitenant Wess
en Boedelkamer. Pada tahun 1888 , Tan menjadi Kapitein dan pada tanggal 1913
akhirnya menjadi Majoor. Pada tahun 1893 , pemerintahan Dinasti Qing memberikan
gelar To-Han [Maharaja Kelas II] dan pada tahun 1908 , Tan mendapat promosi
dari pemerintah Qing dengan pangkat To-Wan. Di tahun 1909 , Tan mendapat
bintang Gouden Ster van Verdienste [Bintang Emas Untuk Jasa] . Tan juga menjadi
ketua dari perkumpulan kematian Kong Djoe Koan ,perkumpulan THHK dan pelindung
Hok Siu Hwee. Tan adalah pelindung utama kesenian jawa , "Een Grot
Beschemer der Javaanse Kunst" [Dr Th Pigeaud, Javaanse Volksvertoningen ,
p114] . Tan juga seorang dermawan yang sering membantu korban bencana alam dan kelaparan
di
Institusi Kapitan Cina
=========================================================
Pada
1619 kota Jayakarta direbut dan dihancurkan oleh VOC. Di atas reruntuhan kota
tersebut, Gubernur Jenderal VOC yang keempat, Jan Pieterszoon Coen, membangun
kota baru Batavia. Penduduk asli Jayakarta, yakni orang-orang Sunda dan Banten,
berpindah ke tempat lain selagi kota baru dibangun sehingga Coen menghadapi
kenyataan bahwa kota menjadi lengang. Yang tertinggal hanyalah tentara dan
pegawai VOC, budak-budak dari Asia Selatan dan sejumlah orang Cina.
Persoalannya, jika kota baru kekurangan penduduk (terutama yang cakap bekerja)
tentu akan menghambat gerak roda perekonomian. Segera Coen teringat kepada
‘sahabat’ lamanya, Souw Beng Kong (SBK), seorang pedagang besar dan berpengaruh
yang dikenalnya di Banten beberapa tahun sebelumnya. Coen membujuk SBK agar mau
pindah ke Batavia dengan iming-iming mendapat jabatan sebagai pemimpin golongan
penduduk Cina. Berbeda
Kemal Idris, Kisah Tiga Jenderal Idealis
=========================================================
In
Historia, Politik on July 30, 2010 at 5:55 PM
“Kalau
ada segelintir perwira yang tidak berubah sikap, maka itu tak lain adalah tiga
jenderal idealis Sarwo Edhie Wibowo, HR Dharsono dan Kemal Idris. Namun
perlahan tapi pasti satu persatu mereka pun disingkirkan dari kekuasaan”.
SELAIN
Jenderal Soeharto, ada tiga jenderal yang tak bisa dilepaskan dari catatan
sejarah pergolakan dan perubahan Indonesia pada tiga bulan terakhir tahun
1965,hingga 1966-1967. Peran mereka mewarnai secara khas dan banyak menentukan
proses perubahan negara di masa transisi kekuasaan dari tangan Soekarno ke
tangan Soeharto. Tentu saja ada sebarisan jenderal dan perwira bersama Jenderal
Soeharto dalam membangun rezim kekuasaan baru menggantikan kekuasaan Soekarno.
Soedjono Hoemardani
=========================================================
Salah
satu pendiri dan ketua kehorrnatan Pusat Pengkajian Strategi Intemasional
(CSIS). Ia pembantu dekat Presiden Soeharto, dengan jabatan terakhir inspektur
jenderal pembangunan dan anggota DPR/MPR-RI. Ia dikenaI juga sebagai penghayat
alam kebudayaan tradisional Jawa. Lahir di Desa Carikan, Solo, 23 Desember 1919
dan meninggal di Jepang pada 12 Maret 1986. Pada masa penjajahan Jepang, Ia
aktif dalam Perang Asia Timur Raya dengan jabatan Fakudanco pada Keibodan, lalu
kepala keuangan pada Pekope (Penolong Korban Perang). Dalam perang kemerdekaan
ia menjadi anggota Resimen Infantri XVI di Solo, dan bergerilya bersama Gatot
Subroto.
Dari
ayahnya, dia mewarisi bakat berdagang. Dalam kariemya sebagai militer ia kerap
kali ditunjuk membawahkan bagian ekonomi dan keuangan. Dalam masa Orde Baru, ia
duduk sebagai asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto, juga dalam bidang
ekonomi dan perdagangan. Ia dikenal ahli melakukan lobi, antara lain membuahkan
kerja sama pihak Jepang dalam penyediaan dana pembangunan Proyek Asahan di
Sumatra
Pembantaian Anggota PKI di Sulsel
=========================================================
Pembantaian
Anggota PKI di Sulawesi Selatan Sahabat
Pustakers pada kesempatan kali ini Pustaka Sekolah akan share mengenai
Penumpasan G30S/PKI Di Sulawesi Selatan. Di Sulsel gerakan anti komunis
berkembang dengan cepat. Demonstrasi anti komunis dari berbagai ormas
berkembang menjadi aksi anarkis sehingga menimbulkan korban jiwa. Minggu
pertama Oktober 1965 terjadi pengeroyokan massa terhadap Dr. Soenarso ditempat
prakteknya karena dituding menyokong kegiatan-kegiatan PKI. Sejak 5 Oktober s/d
10 Oktober secara terorganisir terjadi pelampiasan amarh secara radikal
terhadap PKI beserta ormas-ormasnya dan simpatisan lainnya Kerusakan yang terjadi
meliputi perusakan rumah, perabot rumah para anggota PKI dan ormas-ormasnya.
Ratusan anggota PKI dan ormas-ormasnya berada dalam kompleks Kodim dan
Kepolisian baik sebagai tahanan maupun sukarela menyerahkan diri untuk meminta
perlindungan dari sasaran massa.
Pembantaian
Anggota PKI di Sulawesi Selatan
Sampai
akhir tahun 1965, tidak ada tindakan pihak militer untuk mencegah meluasnya
pembunuhan dan
Sejarah Maluku hingga RMS Chapter
==========================================================
Sejarah Maluku hingga RMS Chapter-1
Posted
on October 7 2010
by
Harry Kawilarang/IM
Foto Eksekusi Hukuman Mati Dr Soumokil
Pimpinan RMS tahun 1960-an
koranbaru.com
-------------------------
Ambon
sejak awal kolonialisme Belanda telah mengalami masa penjajahan penuh
penderitaan dan kekejaman yang berkepanjangan, terutama ketika Belanda
menerapkan “de kruideniers politiek,” (politik rempah-rempah) di abad ke-17.
Semata-mata untuk menguasai rempah-rempah yang sangat potensial yang menjadi
primadona ekonomi bagi negara-negara Atlantik Utara.Mengikut
lembaran bangsa-bangsa di Asia-Pasifik, Ambon dan kepulauan Maluku menjadi awal
dari mata rantai perdagangan dunia sejak masa silam. Dengan rempah-rempah
sebagai komoditi
Hasanuddin HM, Pahlawan Ampera Banjarmasin
=========================================================
Tak
Ada Pilihan Lain, Menjadi
Bangsa
Indonesia atau Bangsa Asing
(Banjarmasin,
10 Pebruari 1966)
------------------------
AKSI
tiga tuntutan rakyat atau Tritura, memang sebulan lebih lambat terjadinya dari
Jakarta. Namun cerita heroisme kaum muda terutama mahasiswa dan pelajar, juga
terjadi di Banjarmasin pada Pebruari tahun 1966. Dan inilah demonstrasi
terbesar Banua yang terjadi pada masa
rezim orde lama Presiden Soekarno.
Secara
umum ada 3 tuntutan yang diperjuangkan. Pertama; turunkan harga barang. Kedua;
Bubarkan PKI. Dan ketiga; bersihkan
kabinet dari antek-antek komunis. Secara khusus di Banjarmasin, justru ada 2
tuntutan tambahan yakni stabilkan harga dan adili para tengkulak (cukong
sembako). Mengapa?
“Karena saat itu perekonomian di Banjarmasin sangat menyedihkan. Di mana-mana
orang antre beli
Tritura 10 Januari 1966
=========================================================
Tritura 10 Januari 1966: Tiga Tuntutan
Yang Tak Pernah Tuntas Terselesaikan
In
Historia, Politik on January 10, 2010 at 1:01 AM
“Presiden mana di antara empat Presiden
sesudah Soekarno-Soeharto yang pernah betul-betul telah berjuang untuk mencapai
keadilan sosial, apalagi membuktikan, paling tidak telah meletakkan dasar-dasar
awal program nyata pencapaian keadilan sosial dan keadilan politik? Keadilan
sosial-ekonomi-politik hanya ada dalam janji-janji palsu masa kampanye dan
retorika pemenang kekuasaan tatkala sudah memangku jabatan”. SETELAH
44 tahun detak waktu berlalu, catatan dan ingatan apa yang tersisa tentang
Tritura –Tri Tuntutan Rakyat, yang dicetuskan mahasiswa 10 Januari 1966– bagi
para pelaku sejarah dalam momen peristiwa di tahun 1966 ? Dan adakah pula makna
yang secara signifikan mewaris ke masa ini, terutama ke dalam ruang pemahaman
generasi baru serta para pelaku dalam kehidupan bernegara ?
Dalam
sudut pandang skeptik setelah 1998, pergerakan mahasiswa 1966 dan penamaan
Angkatan 1966,
Kisah 1966: Dari 10 Januari Menuju 11 Maret
==========================================================
Kisah 1966: Dari 10 Januari Menuju 11
Maret (1)
In
Historia, Politik on January 5, 2010 at 2:15 AM
”10
Januari 1966, demonstrasi mahasiswa meletus di Jakarta, sebagai reaksi terhadap
kenaikan harga-harga. Demonstrasi ini melahirkan Tri Tuntutan Rakyat yang
kemudian dikenal sebagai Tritura. Tiga tuntutan itu meliputi: Bubarkan PKI,
ritul Kabinet Dwikora dan Turunkan harga-harga. Keadaan ekonomi rakyat sebelum
10 Januari demikian terhimpitnya oleh harga-harga yang makin membubung tinggi.
Pemerintah menunjukkan sikap yang ambivalen”.
Antara
konsolidasi dan akrobat politik
DALAM
bulan Oktober 1965, hanya selang beberapa hari setelah Peristiwa Gerakan 30
September,
Kisah Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974 I
=========================================================
Kisah Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15
Januari 1974 (1)
In
Historia, Politik on January 12, 2010 at 5:32 AM
‘Kesibukan’
Jenderal Soemitro
“Jika
frustrasi sudah sedemikian bertumpuknya, dan tak ada penyalurannya, maka akan
terjadi penyelesaian sendiri, yaitu ledakan-ledakan dengan melalui saluran
sendiri”. “Lalu dengan adanya jurang sosial yang makin melebar itu, akan
mungkin terjadi suatu revolusi sosial ?”.
DUA
PERSOALAN yang terpilih jadi pokok masalah yang diperdebatkan berkepanjangan di
tingkat nasional di tahun 1970-an, khususnya pada 1973, adalah masalah rambut
gondrong dan masalah penanaman modal asing di Indonesia dengan kadar kepekaan
yang berbeda-beda. Bahkan dengan tingkat ketajaman persepsi yang berbeda-beda
pula. Bagi para mahasiswa Bandung, kedua masalah itu tidak berdiri sendiri,
melainkan ada dalam satu bingkai ‘persoalan’
Kisah Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974 II
=========================================================
Kisah Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15
Januari 1974 (6)
In
Historia, Politik on January 17, 2010 at 1:18 AM
“PADA
akhirnya gerakan protes mahasiswa memang menggelinding juga langsung ke arah
Presiden Soeharto. Berkali-kali kelompok-kelompok demonstran mahasiswa
mendekati kediaman Presiden di Jalan Cendana, berkali-kali pula terbentur pada
keketatan barisan pengamanan”. “…. menjelang akhir Desember 1973, setelah suatu
delegasi besar mahasiswa Bandung dan Jakarta melancarkan suatu demonstrasi
langsung menembus ke kediaman Presiden Soeharto di Cendana –dan menyampaikan
tuntutan untuk berdialog– ‘penguasa tertinggi’ Indonesia itu pada akhirnya ….
menyatakan bersedia melakukan dialog”.
SELAIN
aksi ekstra parlementer KNPI, ada lagi satu tokoh demonstran yang paling banyak
‘menyedot’ perhatian, baik karena keunikannya, maupun karena keanehan dan karena ‘menjengkelkan’ sekaligus. Laksus
Kisah Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974 III
=========================================================
Kisah Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15
Januari 1974 (11)
In
Historia, Politik on January 23, 2010 at 12:58 AM
foto legendaris MALARI, Jenderal
Soemitro dengan TOA diatas mobil, disebelahnya Herman Sarens Sudiro, berpidato
di tengah kerumunan mahasiswa
--------------------------------
“Setelah
melapor, para jenderal mengeluarkan pernyataan-pernyataan dan ultimatum keras.
Tapi yang paling keras barangkali justru apa yang dilontarkan oleh Jenderal
Soemitro yang sejak awal tahun berada di posisi bawah angin dan dicurigai
berambisi mengambilalih posisi kepemimpinan nasional dari tangan Soeharto”.
Jenderal Maraden maupun Jenderal
Langganan:
Postingan (Atom)









.jpg)

